Dikirim oleh kawan:
Kejadiannya gini, waktu itu kawan tersebut sedang naik Metro Mini dan tiba-tiba ada sekelompok pemuda masuk. Tidak berapa lama kelompok tersebut mengancam penumpang dengan pisau dan meminta mereka menyerahkan barang2 yg dibawa. Semua ketakutan dan menyerahkan barang2 mereka. Ada seorang ibu2 yang menggendong bayi menyerahkan tas pada para pencopet itu sambil ngomong: "Ini ya Bang, saya serahin barang saya, demi Allah saya ikhlas, semoga berguna bagi abang2 sekalian."
Terus si Copet langsung ngomong: "coba kalian semua kayak dia, tidak perlu saya mengeluarkan pisau. Sesudah itu kawanan itu buru-buru turun. Tinggal kita semua bengong. Lalu ada yang nanya ke si Ibu, kok bisa tenang gitu?
Si Ibu bilang: Ya, nggak apa2, orang isi tas itu cuma pampers bekas kotoran anak saya yg kecil, juga bekas muntahan anak saya yg gede. Juga mainan duit2an anak2, sama casing hp buat mainan anak saya.
Penumpang: oooo!!!
Yah ketipu deh... cuma joke aja kok. :)
Tampilkan postingan dengan label copet. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label copet. Tampilkan semua postingan
Kamis, 30 Agustus 2007
Rabu, 29 Agustus 2007
Pengalaman Diangkot - Copet Sial
Kemarin setelah obrolan rokok tersebut saya ceritakan kepada rekan seruangan. Eh ternyata dia punya pengalaman kecopetan di angkot. Kejadiannya si rekan (kali ini wanita), sedang naik angkot didaerah Cinere. Pada saat naik angkot kosong yang kemudian di naik 3 orang lagi, 12 wanita dan 2 bapak-bapak. Di samping si rekan duduk si ibu dan didepan si rekan duduk seorang laki-laki membawa koran terlipat. Yang satunya lagi duduk agak dalam. Tiba-tiba si ibu yang duduk disamping rekan saya ini seperti mau muntah terus, jadi si rekan saya ini nengok memperhatikan si ibu itu terus takut kena muntahan. Setelah berulang-ulang si ibu uwe-uwe an, si rekan menunduk sedikit. Langsung kaget melihat retsleting tasnya sudah terbuka lebar. Waktu dicek dompetnya sudah lenyap. Si rekan langsung curiga dengan si bapak didepannya dan langsung saja berteriak, "kamu yang ambil dompet saya". Si bapak tidak mengaku dan bilang,"lihat saja sendiri" sembari dengan yakinnya membuka lengannya kekiri dan kekanan yang mana salah satu tangannya memegang koran. Lucunya waktu dia membuka lengannya tersebut meluncur sidompet keluar dari sela-sela korannya tersebut. Si rekan langsung teriak "itu dompet saya". Dompet itu dipungut oleh bapak yang satunya dan dikembalikan kepada rekan saya sembari bilang "makanya bu diangkutan hati-hati" dan menyuruh angkot berhenti. Nyelonong aja ketiganya tersebut keluar tanpa bayar. Untuk juga si rekan tidak diapa-apakan. Lalu si rekan saya ini marah kepada supir kenapa orang-orang tersebut dikasih naik. Si supir cuma bilang,"yah, bu.., kan saya tiap hari lewat sini. Nanti saya diapa-apakan". Si rekan saya ini nekad juga, sih menurut saya karena orang-orang tersebut kan orang tidak berperasaan yang menghalalkan segala cara untuk uang.
Sirekan kemudian bilang jaman dulu waktu masih remaja, si rekan dengan adik kakaknya yang juga perempuan (bertiga) waktu naik bis kota pernah melihat pencopet sedang beraksi didepan muka mereka. Mereka duduk bertiga dan ada bapak-bapak didepannya. Pada saat diperjalanan mereka melihat tangan menyelinap dan langsung merogoh kantung belakang celana sibapak. Cewek-cewek ini memang perkasa, salah satu adiknya rekan saya tersebut menepuk dan mengangkat keluar tangan pencopet tersebut. Terus mengangkat tangannya kearah sipencopet dengan memberi jari telunjuk yang digoyangkan ke kiri dan kekanan mengaba-abakan JANGAN YAH.
Begitulah rekan saya ini, cewek perkasa dan sekeluarga lagi perkasanya. he...he..he..
Sirekan kemudian bilang jaman dulu waktu masih remaja, si rekan dengan adik kakaknya yang juga perempuan (bertiga) waktu naik bis kota pernah melihat pencopet sedang beraksi didepan muka mereka. Mereka duduk bertiga dan ada bapak-bapak didepannya. Pada saat diperjalanan mereka melihat tangan menyelinap dan langsung merogoh kantung belakang celana sibapak. Cewek-cewek ini memang perkasa, salah satu adiknya rekan saya tersebut menepuk dan mengangkat keluar tangan pencopet tersebut. Terus mengangkat tangannya kearah sipencopet dengan memberi jari telunjuk yang digoyangkan ke kiri dan kekanan mengaba-abakan JANGAN YAH.
Begitulah rekan saya ini, cewek perkasa dan sekeluarga lagi perkasanya. he...he..he..
Selasa, 28 Agustus 2007
Kehidupan Berangkutan di Jakarta
Hari ini tanggal 28 Agustus 2007, habis makan siang, biasa, saya duduk didepan kantor sambil merokok. Rekan-rekan sekantor para perokok juga ikut duduk-duduk sambil merokok. Tiba-tiba ada rekan yang turun dari Metro Mini langsung saja saya tanyakan dapet berapa dompet loeh? “14” katanya. Tertawalah semua rekan-rekan perokok lainnya.
Terjadilah pembicaraan ngalor ngidul yang akhirnya si rekan yang baru turun dari Metro Mini memulai pembicaraan sekitar pengalamannya tercopet atau hampir tercopet (sial juga kawan ini, ternyata pengalamannya bukan satu). Yang pertama si rekan ini sedang melakukan perjalanan dengan angkot dari Lebak Bulus kearah mana gitu saya lupa. Ditengah perjalanan ada sekelompok anak muda naik dan membagi-bagikan selebaran mengenai pijat refleksi. Salah satu pemuda yang tadi duduk disebelah kiri rekan saya ini. Tiba-tiba pemuda yang satu lagi, jongkok didepan kawan saya langsung pegang kaki kiri kawan saya ini dan bilang “mari bang saya pijit buat percobaan, gratis”. Karena dipaksa-paksa akhirnya si kawan membiarkan kaki kirinya dipijit. Ternyata kawan ini menaruh handphonenya di kantung celana kiri. Lagi dipijit ia merasa kok hp dicelannya makin bergeser keatas. Lalu dengan siku kirinya ia mencoba menahan hpnya dan merasakan dorongan. Ternyata kawanan penjahat yang duduk dikiri kawan saya itu, dia membawa tas atau map ditangan kanannya gitu, menutupi tangan kirinya yang menggeser-geser hp kawan saya ini agar melesat kebelakang sehingga jatuh dikursi untuk dicopet. Secara insting kawan saya tersebut, merasa terancam, langsung melayangkan sikunya kemuka orang tersebut. Dan langsung teriak “Heh! Mau nyopet hp gue, loe pade?” Mereka tentunya tidak mau ngaku dan berlaga pilon. Teman saya kebetulan melihat kumpulan tukang ojek dipinggir jalan, minta supir untuk berhenti. Supir berhenti dan kawan tersebut minta pertolongan para tukang ojek. Habis juga kawanan tersebut dipukuli kata kawan saya tersebut dan mereka digiring ke polsek terdekat.
Setelah itu saya jadi ikut bercerita mengenai pengalaman rekan kerja yang lainnya yang diceritakan kesaya. Kejadiannya juga sama di Metro Mini, hanya kejadiannya di dekat Benhil. Kejadiannya pada waktu itu Metro Mini lagi padat sehingga rekan saya tersebut hanya kedapatan berdiri dan rapat. Jadi si rekan ini berdempetan dengan penumpang lain yang berdiri. Namanya naik Metro Mini yang sebentar-bentar berhenti jalan berhenti jalan tiba-tiba pada waktu Metro Mini berjalan dia merasakan mendadakan dingin dikantong kiri depan celananya. Yang pernah kecopetan dompet pasti mengetahui perasaan itu. Rupanya si pencopet menggunakan momentum pergerakan maju-mundur maju-mundurnya penumpang selagi berdiri di Metro Mini untuk memasukan tangan dan mencabut tangan sehingga tidak terlalu berasa. Rekan saya tersebut yang seorang muslim soleh langsung menyebut dalam hati “Astagfirullah saya kecopetan”. Rekan saya tersebut hanya berpikir yah diikhlaskan saja lah mungkin orang tersebut lebih memerlukan, rekan tersebut hanya diam saja. Ternyata setelah beberapa menit Metro Mini berjalan pundak rekan saya tersebut ditepuk dari belakang. Teman saya menengok, orang tersebut bilang maaf yah mas ini barangnya. Langsung aja setelah itu orang tersebut buru-buru turun. Ternyata yang dicopet orang tersebut adalah Al Qur’an pocket size yang kebetulan dikantungi. Rekan saya tersebut juga karena agak grogi sampai lupa bahwa yang dikantungnya tersebut adalah Qur’an. Tobat kali tuh pencopet…
Terus rekan saya yang pertama tersebut bercerita lagi kejadian di bus (saya lupa jurusan mana). Dia waktu itu kejadiannnya sama, lagi berdiri dibus yang padat. Tetapi kali ini seorang wanita mepet-mepet sembari menggesek-gesekkan dadanya seirama goyang-goyangnya berdiri didalam bus yang berjalan. Konsentrasi rekan saya tersebut jadi buyar. Tetapi akhirnya dia merasa ada tangan didalam sakunya yang ada hp-nya. Wah, nggak beres nih pikir rekan saya tersebut. Karena wanita rekan tersebut jadi agak berani. Langsung aja dia tanya tinggal dimana blah-blah-blah… terus rekan saya bilang kalau gitu mbak, kita ketempat mbak aja, saya bayar, kata rekan saya tersebut. Lalu si mbak tersebut agak marah-marah dan bilang memang saya wanita apaan. Ternyata tangan si wanita tersebut, mungkin masih berharap tidak ketahuan, masih sebagian tertinggal dikantong si rekan saya tersebut. Langsung buru-buru rekan saya menangkap tangan wanita tersebut dari luar saku dan bilang kalau gitu kenapa tangan mbak ada dikantong celana saya, mau nyopet yah? Lalu ada seorang laki-laki bergegas kebelakang langsung menanyakan mbak kenapa? Ada yang bisa dibantu? Seperti itu kata laki-laki tersebut. Langsung saja rekan saya tersebut teriak, kamu satu komplotan yah? Sepertinya mereka kaget dan langsung bergegas turun. Gila bener, cewek juga bandit.
Sebenarnya ada kejadian lainnya tapi nggak seberapa seru untuk diceritakan. Yah gitu lah kehidupan berangkutan di Jakarta.
Terjadilah pembicaraan ngalor ngidul yang akhirnya si rekan yang baru turun dari Metro Mini memulai pembicaraan sekitar pengalamannya tercopet atau hampir tercopet (sial juga kawan ini, ternyata pengalamannya bukan satu). Yang pertama si rekan ini sedang melakukan perjalanan dengan angkot dari Lebak Bulus kearah mana gitu saya lupa. Ditengah perjalanan ada sekelompok anak muda naik dan membagi-bagikan selebaran mengenai pijat refleksi. Salah satu pemuda yang tadi duduk disebelah kiri rekan saya ini. Tiba-tiba pemuda yang satu lagi, jongkok didepan kawan saya langsung pegang kaki kiri kawan saya ini dan bilang “mari bang saya pijit buat percobaan, gratis”. Karena dipaksa-paksa akhirnya si kawan membiarkan kaki kirinya dipijit. Ternyata kawan ini menaruh handphonenya di kantung celana kiri. Lagi dipijit ia merasa kok hp dicelannya makin bergeser keatas. Lalu dengan siku kirinya ia mencoba menahan hpnya dan merasakan dorongan. Ternyata kawanan penjahat yang duduk dikiri kawan saya itu, dia membawa tas atau map ditangan kanannya gitu, menutupi tangan kirinya yang menggeser-geser hp kawan saya ini agar melesat kebelakang sehingga jatuh dikursi untuk dicopet. Secara insting kawan saya tersebut, merasa terancam, langsung melayangkan sikunya kemuka orang tersebut. Dan langsung teriak “Heh! Mau nyopet hp gue, loe pade?” Mereka tentunya tidak mau ngaku dan berlaga pilon. Teman saya kebetulan melihat kumpulan tukang ojek dipinggir jalan, minta supir untuk berhenti. Supir berhenti dan kawan tersebut minta pertolongan para tukang ojek. Habis juga kawanan tersebut dipukuli kata kawan saya tersebut dan mereka digiring ke polsek terdekat.
Setelah itu saya jadi ikut bercerita mengenai pengalaman rekan kerja yang lainnya yang diceritakan kesaya. Kejadiannya juga sama di Metro Mini, hanya kejadiannya di dekat Benhil. Kejadiannya pada waktu itu Metro Mini lagi padat sehingga rekan saya tersebut hanya kedapatan berdiri dan rapat. Jadi si rekan ini berdempetan dengan penumpang lain yang berdiri. Namanya naik Metro Mini yang sebentar-bentar berhenti jalan berhenti jalan tiba-tiba pada waktu Metro Mini berjalan dia merasakan mendadakan dingin dikantong kiri depan celananya. Yang pernah kecopetan dompet pasti mengetahui perasaan itu. Rupanya si pencopet menggunakan momentum pergerakan maju-mundur maju-mundurnya penumpang selagi berdiri di Metro Mini untuk memasukan tangan dan mencabut tangan sehingga tidak terlalu berasa. Rekan saya tersebut yang seorang muslim soleh langsung menyebut dalam hati “Astagfirullah saya kecopetan”. Rekan saya tersebut hanya berpikir yah diikhlaskan saja lah mungkin orang tersebut lebih memerlukan, rekan tersebut hanya diam saja. Ternyata setelah beberapa menit Metro Mini berjalan pundak rekan saya tersebut ditepuk dari belakang. Teman saya menengok, orang tersebut bilang maaf yah mas ini barangnya. Langsung aja setelah itu orang tersebut buru-buru turun. Ternyata yang dicopet orang tersebut adalah Al Qur’an pocket size yang kebetulan dikantungi. Rekan saya tersebut juga karena agak grogi sampai lupa bahwa yang dikantungnya tersebut adalah Qur’an. Tobat kali tuh pencopet…
Terus rekan saya yang pertama tersebut bercerita lagi kejadian di bus (saya lupa jurusan mana). Dia waktu itu kejadiannnya sama, lagi berdiri dibus yang padat. Tetapi kali ini seorang wanita mepet-mepet sembari menggesek-gesekkan dadanya seirama goyang-goyangnya berdiri didalam bus yang berjalan. Konsentrasi rekan saya tersebut jadi buyar. Tetapi akhirnya dia merasa ada tangan didalam sakunya yang ada hp-nya. Wah, nggak beres nih pikir rekan saya tersebut. Karena wanita rekan tersebut jadi agak berani. Langsung aja dia tanya tinggal dimana blah-blah-blah… terus rekan saya bilang kalau gitu mbak, kita ketempat mbak aja, saya bayar, kata rekan saya tersebut. Lalu si mbak tersebut agak marah-marah dan bilang memang saya wanita apaan. Ternyata tangan si wanita tersebut, mungkin masih berharap tidak ketahuan, masih sebagian tertinggal dikantong si rekan saya tersebut. Langsung buru-buru rekan saya menangkap tangan wanita tersebut dari luar saku dan bilang kalau gitu kenapa tangan mbak ada dikantong celana saya, mau nyopet yah? Lalu ada seorang laki-laki bergegas kebelakang langsung menanyakan mbak kenapa? Ada yang bisa dibantu? Seperti itu kata laki-laki tersebut. Langsung saja rekan saya tersebut teriak, kamu satu komplotan yah? Sepertinya mereka kaget dan langsung bergegas turun. Gila bener, cewek juga bandit.
Sebenarnya ada kejadian lainnya tapi nggak seberapa seru untuk diceritakan. Yah gitu lah kehidupan berangkutan di Jakarta.
Langganan:
Postingan (Atom)
.jpg)